Senin, 24 Mei 2010

Fromberg Park di Lapangan Monas


Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), boleh diacungkan jempol dalam membangun bukan saja Batavia, tapi juga Nusantara. Dia lah yang membangun lapangan terbuka seperti terlihat dalam foto tahun 1920-an. Inilah Koningsplein (Lapangan Raja), tapi oleh warga Betawi karena sentimen anti-Belanda menyebutnya Lapangan Gambir.
Foto yang diabadikan dari Jl Medan Merdeka Utara tempat Istana Merdeka berada, adalah Fromberg Park (Taman Fromberg). Di bagian kanan terlihat tiang-tiang trem listrik yang dikiri kanannya terdapat pepohonan yang sedap dipandang mata. Fromberg Park (Taman Fromberg) hanya salah bagian dari sejumlah taman yang terdapat di lapangan Monas, lapangan terluas dan terbesdar di kota-kota besar dunia.
Di bagian kiri paling ujung (tidak terlihat) terdapat Deca Park. Di Deca Park terdapat sebuah bioskop untuk golongan elite Belanda, khusus memutar film-film Hollywood yang diberi teks dalam bahasa Belanda. Di dekat Deca Park terdapat lapangan bola Hercules yang pemain-pemainnya kebanyakan warga Belanda. Seperti juga di negaranya, di Indonesia orang Belanda menyenangi sepak bola. Di lapangan ini pada malam hari sering diadakan pertandingan tinju mengundang petinju-petinju kelas berat dari mancanegara. Pada tahun1950′an dalam usia belasan tahun saya sering menonton tinju, tapi dengan cara membolos karena tidak sanggup membayar.
Tapi sayangnya, lapangan terluas di jagat ini sejak masa kolonial telah ‘dikotori’ oleh sejumlah bangunan. Akibatnya sebelum dibangun Monas tahun 1960-an di lapangan ini berdiri beberapa bangunan pemerintah, taman-taman, tempat olah raga dan pacuan kuda. Terdapat juga lapangan hockey yang pemainnya keturunan India dan Pakistan. Kantor telepon, Jawatan Penerangan DKI Jakarta, Taman Amir Hamzah, Kantor Pos Pembantu dan Lapangan IKADA (Ikatakan Atletik Djakarta). Bahkan Reporter Club berkantor di lapangan ini. Karena itulah Bang Ali setelah menjadi gubernur DKI membersihkannya, terrmasuk gubuk-gubuk liar yang dihuni tuna wisma.
oleh : Alwi Shahab

Habib Ahmad Mencari Kampung Arab

Menjelajahi Jl Gajah Mada dari arah Harmoni kita diminta untuk bersabar menghadapi macetnya lalu lintas ke arah Glodok. Berbelok ke kiri sebelum mencapai gedung Arsip Nasional yang dulu tempat tinggal gubernur jenderal de Klerk, yang dibangun pada abad ke-18, terdapat kampung Krukut.

Nama kampung tua yang berdiri tidak lama setelah kota Batavia itu kini diganti jadi Jl Kebahagiaan dan Jl Keutamaan. Memasuki Krukut kita akan mendapati masjid berusia ratusan tahun, yang kini sudah diperbaharui hingga tidak terlihat lagi keasliannya.

Pekan lalu, saya mengantarkan Habib Ahmad Somaid (83 tahun) ke Krukut, tempat ia dilahirkan pada tahun1923. Perjalanan dari Kebagusan, Pasar Minggu, ke Krukut, yang berjarak sekitar 20 km, kami tempuh dalam waktu empat jam akibat macetannya lalu lintas. Habib yang kini warga Arab Saudi itu, saking kesal dan lelahnya karena mobil harus berjalan merayap-rayap, mengatakan, ”Seperti perjalanan dari Arafah ke Mina saat ibadah haji.”

Karena sudah puluhan tahun tidak melihat tanah kelahirannya, dia menjadi kaget, karena suasananya sudah berubah. Dahulu, Krukut dan juga Pekojan, dihuni hampir seluruhnya oleh orang Arab. Dulu di Krukut banyak kambing berkeliaran, karena keturunan Arab senang daging kambing. Sekarang, sebagian besar penduduknya keturunan Cina. Habib, yang datang bersama istri dan cucu-cucunya yang tengah liburan, tidak menjumpai lagi rumah tempat ia dilahirkan. ”Semua berubah. Saya sudah tidak mengenal lagi Krukut sekarang ini,” katanya menyerah setelah berputar-putar beberapa lama.

Bercerita tentang masa kecil, Habib Ahmad dari Krukut kemudian pindah ke Tanah Abang. Ia tinggal di Jl Karet (kini Jl KH Mas Mansyur), di depan kuburan Arab (dibongkar pada masa gubernur Ali Sadikin). ”Dulu, pagi-pagi di depan rumah saya lewat tukang makanan, buah-buahan, dan tukang beras yang hendak mangkal di pasar Tanah Abang,” katanya. Dia juga tidak mengenali lagi bekas kediamannya. Di Tanah Abang, dia bersekolah di Jamiatul Kheir dan Al-Irfan, yang dipimpin Abdullah Salim Alatas, ayah mantan Menlu Ali Alatas.

Pada tahun 1932, dalam usia 9 tahun, dia pindah ke Kwitang, di Jalan Kembang Sepatu (kini Jl Kramat Kwitang I), Jakarta Pusat. Di Kwitang, kala itu tinggal tokoh Islam H Agus Salim (Syarikat Islam), Mr Mohamad Roem (Masyumi) dan Saerun (wartawan dan pemilik Harian Pemandangan). ”Saya berkawan baik dengan putera-puteri H Agus Salim,” katanya.

Ayahnya, Habib Husain Somaid, merupakan salah seorang penasehat Habib Ali Alhabsyi, pemimpin majelis taklim Kwitang. Ayahnya adalah seorang hafidz (hafal Alquran). Suatu waktu di pengajian, saat ia membaca Alquran, tiba-tiba lampu padam. Tapi ayahnya terus membaca hingga yang hadir jadi heran, karena ia membaca saat lampu padam.

”Waktu di Kwitang, saya naik trem listrik dari Gang Listrik (kini Jl Kramat III) ke pasar Tanah Abang. Kemudian ke Jamiatul Khair yang letaknya berdekatan. Kala itu, keturunan Arab diharuskan naik trem di kelas II dengan tarif 10 sen. Kelas III tarifnya lebih murah hanya untuk bumiputera, yang oleh Belanda disebut inlander. Ke Tanah Abang trem melewati Kalipasir, dan jembatan kali Ciliwung. Kala itu, lebar sungai yang membelah Kwitang – Kalipasir beberapa kali lipat dari sekarang. Demikian juga airnya jernih, hingga digunakan untuk mandi, mencuci dan wudhu.”

Pada tahun 1937 (16 Juni), ia menghadiri Jambore Kepanduan di Belanda. Naik kapal Dempo milik Belanda, selama 28 hari baru sampai ke Rotterdam. Dia ikut jambore bersama 80 pandu dari Hindia Belanda. Terdiri dari Belanda totok/Indo 30 orang, Ambon 10 orang, Arab 7 orang, dan Bumiputera 30 orang. Wakil pandu Arab memakai stambul warna merah dengan kuncir hitam kopiah sehari-hari orang Mesir. Karena memakai stambul, kita mendapat sambutan dan simpati dari wakil-wakil pandu negara Arab. Uniknya, pihak bumiputera menggunakan lurik dan blangkon. Dalam jambore hadir Lord Baden Powell, bapak pandu internasional.

Pulangnya, Habib Ahnad turun di Port Said, Mesir, dan tidak kembali ke Indonesia. Ketika itu soal visa tidak ada masalah seperti sekarang. Di Kairo ia bersekolah di King Fuad University (kini Cairo Univercity). Tahun 1952, dia melanjutkan petualangannya ke Arab Saudi. Bekerja di perusahaan importir terbesar Saudi, Sharbath, sampai 1956. Pertengahan 1956, ibunya yang sudah lanjut memintanya agar segera kembali ke Indonesia. Sementara ayahnya meninggal dunia tahun 1951.

Setibanya di Indonesia, dia memilih jadi anggota PNI. Karena menguasai bahasa Inggris, Belanda, Prancis dan Arab, dia termasuk anggota teras partai yang didirikan Bung Karno ini. Kala itu ketua umum PNI Suwiryo. Ia juga bekerja di RRI siaran bahasa Arab untuk konsumsi Timur Tengah bersama ajengan KH Abdullah Bin Nuh. Di PNI dia kenal baik dengan Ruslan Abdulgani dan Hardi SH. Ketika terjadi perdebatan soal poligami, tokoh PNI Ny Supeni minta pendapat saya untuk dijadikan rujukan sebagai suara PNI. Saya katakan Islam tidak melarang poligami tapi kamu harus berlaku adil. Dan kamu tidak bisa berlaku adil.

Pada tahun 1960-an ia kembali ke Arab Saudi sampai 1967. Kemudian bekerja di televisi Kuwait sampai 1973. Untuk kemudian kembali ke Saudi dan bekerja di National Commercial Bank selama 11 tahun dan pensiun 1987. Diapun jadi warga negara Saudi.

Sekalipun tidak menemui lagi kediamannya di Krukut, Tanah Abang, dan Kwitang, tapi kangennya terhadap tanah kelahiran terobati. Dia dapat merasakan kembali asinan, pete kecap, sambel terasi dan terutama durian. Baik saat sarapan, makan siang dan malam, durian tidak pernah ketinggalan. ”Saya juga kagum pada mojang-mojang Indonesia. Cantik dan lebih luwes dibanding gadis-gadis negara lain,” katanya.

oleh : Alwi Shahab

Polisi Antipungli di Masa Lalu


Foto seorang opas alias banpol (pembantu polisi) di salah satu jalan raya di kawasan elite Jakarta Kota sekitar tahun 1930-an. Sang opas yang mengenakan pedang dipinggang kiri dan pistol di pinggang kanannya mengenakan topi pramuka(pandu) yang dipelitur warna coklat. Topi ini buatan Tangerang, yang ketika itu diekspor ke mancangegara termasuk Eropa. Seragamnya juga bewarna coklat dengan ikat pinggang dari kulit. Dia sedang menjaga ketertiban lalu lintas di prapatan jalan yang tampak masih lengang oleh lalu lintas kendaraan. Maklum ketika itu belum banyak mobil yang nongol.
Berlainan dengan lampu lalu lintas sekarang ini di mana lampu bewarna hijau, kuning dan merah berganti secara otomatis, dulu sampai tahun 1960-an masih manual yakni digerakkan dengan tangan si polisi, yang dalam foto ini terlihat tanda stop. Opas sebagai pembantu polisi ketika itu personilnya kebanyakan penduduk asli. Sedangkan polisi sebagian besar warga Belanda atau Indo.
Opas di samping membantu polisi seperti petugas lalu lintas, juga menolong lansia terutama nenek-nenek yang hendak menyeberang di jalan raya. Jakarta yang kini menjadi kota megapolitan boleh dikata dipenuhi oleh ratusan ribu kendaraan bermotor. Si pengendara roda dua ini lebih banyak tidak memiliki toleransi dan mau berhenti sebentar terhadap nenek-nenek yang hendak menyeberang di jalan raya.
Pernah seorang pengendara marah-marah ketika hampir menyerempet seorang nenek. ”Ngapaian nenek-nenek keluar lebih baik diam di rumah saja,” gerutu pengendara motor. Tidak heran kalau seniman Betawi, SM Ardan (74 tahun) meninggal hanya karena ditabrak motor.
Tidak seperti polisi sekarang, di masa kolonial tidak dikenal istilah pungli. Tidak heran kalau seseorang melakukan pelanggaran lalin dia melakukan cara damai dengan polisi. Dari pada membayar tilang Rp 75 ribu lebih baik uang itu diberikan polisi Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Berapa ratus miliar uang yang harusnya masuk ke kas negara akhirnya mengalir ke kocek-kocek oknum polisi yang tanpa mengenal malu siap untuk berdamai dengan pelanggar lalu.
Tidak mau kalah dengan polisi oknum DLLAJR juga secara terang-terangan mencegat truk-truk pengangkut barang tidak peduli barang kebutuhan pokok. Dalam perjalanan beberapa puluh kilometer, truk-truk barang harus membayar pungli yang tentu saja dijadikan sebagai bagian ongkos produksi. Akibatnya rakyat kecil terpukul karena ikut menanggung kenaikan harga barang. Sejauh ini pungli di jalan raya makin menjadi-jadi tidak ada tindakan hukum terhadap mereka.
oleh : Alwi Shahab

Glodok-Pancoran 1872

Inilah pusat perdagangan dan perekonomian paling bergengsi di Jakarta: Glodok dan Pancoran. Foto ini diabadikan tahun 1872 memperlihatkan adanya sungai atau kanal yang menghubungkan Glodok dan Pancoran.
Pada abad ke-20 kanal di Pancoran ditutup dan kini merupakan bagian dari jalan raya dan pertokoan. Sedangkan jembatan Glodok sebagai penghubung kedua daerah di kawasan China Town dibongkar. Sampai akhir abad ke-19, kanal seperti terlihat di foto menjadi salah satu urat nadi tranportasi seperti terlihat sejumlah perahu yang memuat barang-barang dagangan.
Jembatan Glodok yang sudah menghilang itu letaknya dipersimpangan Pancoran dan Nieuwpoort Straat (kini Jalan Pintu Besar Selatan). Di sebelah kiri foto tampak pertokoan Glodok dan diseberangnya pertokoan Pancoran. Pasar Glodok tampak masih sangat sederhana. Kala itu atap rumah mereka meruncing di bagian atas, meniru rumah di dataran Cina negeri leluhurnya. Kawasan Glodok yang kini gersang karena dipenuhi oleh para pedagang, waktu itu masih rimbun. Dikelilingi oleh pepohonan yang kini sudah tidak dijumpai lagi.
Nama Pancoran karena ditempat ini dulu ada air mancur. Para penduduk siap untuk antri selama beberapa jam untuk mengambil air dari kali Molenvliet (Ciliwung) yang telah disaring terlebih dahulu. Menurut sejarawan Belanda, de Haan banyak para anak kapal saat mendarat di pelabuhan Sunda Kelapa mengambil air yang telah dijernihkan di sini. Para kelasi juga sangat menyukai arak produksi Batavia yang pada abad ke-17 banyak diusahakan oleh keturunan Cina. Dan di tempat ini pulalah para pelaut setelah berbulan-bulan dalam pelayaran berkesempatan bermain dengan WTS di soehian (istilah Mandarin untuk rumah pelacuran dan hiburan).
Ketika terjadi huru-hara dalam Peristiwa Mei 1998 banyak toko dan rumah di China Town dihancurkan dan dibakar serta barang-barang mereka dijarah. Peristiwa lebih keji terjadi pada Nopember 1740 ketika 10 ribu warga Cina dibantai mulai dari kanak-kanak, wanita hingga kakek-kakek. Karena mereka dianggap ingin memberontak terhadap Belanda. Di masa Bung Karno, Glodok bersama Pasar Baru menjadi tempat penjualan uang dolar secara gelap (black market).
oleh : Alwi Shahab

Nama Batavia Jadi Jakarta

Pemilihan kepala daerah (pilkada) yang merupakan pesta demokrasi tingkat Jakarta akan berlangsung bulan Juni 2007. Jakarta sejak awal proklamasi (1945) sampai saat ini telah memiliki tiga orang wali kota dan delapan gubernur. Sedangkan pada masa kolonial 1619-1942 tercatat 66 orang gubernur jenderal. Terakhir adalah gubernur jenderal A.W.L. Tjarda van Stankeborg Stachouwer. Setelah tanggal 5 Maret 1942 kota Batavia jatuh ditangan Balatentara Jepang, pada 9 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang.

Balatentara Jepang langsung mengeluarkan UU tentang ‘Perobahan Pemerintahan Daerah’. Pulau Jawa dibagi dalam satuan-satuan daerah yang disebut Syuu (keresidenan). Keresidenan dibagi dalam beberapa Ken (kabupaten) dan shi (stadgementer). Yang terakhir ini mengerjakan segala pemerintahan daerah di dalam lingkungan daerahnya. Seperti regent (bupati), wedana, asisten wedana, lurah, kepala kampung atau wijkmeester.

Begitu menaklukkan Belanda, Jepang merubah nama Batavia dengan Jakarta. Pada masa Jepang ini dibentuk RT-RW yang berlangsung hingga kini. Nama-nama jalan dan gedung dari nama Belanda diganti dengan nama Jepang. Sejumlah patung tokoh Belanda ditumbangkan. Seperti patung pendiri Batavia J.P.Coen di halaman Departemen Keuangan sekarang.

Mula-mula rakyat Indonesia menyambut baik kedatangan balatentara Jepang. Mereka menjanjikan kemerdekaan dan menggembleng rakyat Indonesia untuk membantu balatentara Jepang yang tengah berperang dengan Sekutu (AS dan Inggris). Hingga kala itu ada semboyan ‘Amerika kita strika’ ‘Inggris kita linggis’. Tapi kehidupan rakyat sangat terpuruk dan kelaparan terjadi di mana-mana.

Dalam foto terlihat suasana memperingati genap setahun perang Asia Timur Raya pada 8 Desember 1942 di Lapangan Gambir (kini Monas). Rapat umum yang dihadiri puluhan ribu warga Jakarta ini dihadiri oleh para pembesar Jepang. Termasuk Jenderal Okazaki, Panglima AD Jepang di Jawa yang membacakan sambutan ‘Tenno Heika’ (kaisar Jepang). Ir Sukarno, yang menjadi Ketua Kehormatan Rapat Umum tersebut, seperti disebutkan majalah ‘Djawa Baroe’ terbitan pendudukan Jepang menyatakan bulatnya semangat rakyat menyokong membangunkan masyarakat baru.

Di foto terlihat bendera Jepang siap untuk dikibarkan dihadapan sekitar 30 ribu warga Jakarta yang mendatangi Lapangan Gambir (Monas). Dewasa ini pemerintah Jepang menghadapi tuntutan agar meminta maaf terhadap kekejamannya menjadikan wanita-wanita di kedua negara sebagai budak seks tentara pendudukan Jepang. Indonesia sendiri yang selama 3,5 tahun dijajah Jepang juga menghadapi kekejaman yang sama. Beberapa tahun lalu pernah wanita-wanita Indonesia yang menjadi korban seks tentara Jepang menuntut ganti rugi.

oleh : Alwi Shahab

Asal Usul Nama Tempat di Jakarta

Setelah dilakukan penelitian, penyebutan nama tempat dan nama kampung yang ada di Jakarta tidak sekadar asal nama. Hampir semua nama tempay dan kampung yang dikaji ternyata mempunyai riwayat sendiri-sendiri, seperti peristiwa sejarah yang pernah terjadi. Ada juga nama kampung atau tempat yang dikaitkan dengan vegetasi atau tumbuh-tumbuhan yang banyak ditemukan. Juga ada nama tempat atau kampung yang dikaitkan dengan seorang tokoh yang pernah tinggal di tempat itu.

Baiklah kita mulai dengan kawasan Ancol di Jakarta Utara, yang kini menjadi tempat rekreasi paling terkenal di tanah air. Ancol mengandung arti tanah rendah berpaya-paya. Dahulu, bila laut sedang pasang, air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya sehingga terasa asin. Wajarlah bila Belanda zaman VOC menyebut kawasan tersebut Zoutelande (tanah asin). Sebutan yang juga diberikan untuk kubu pertahanan yang dibangun di situ pada 1656.

Dari Ancol kita ke Angke, Jakarta Barat. Di sini kita menemukan masjid tua yang berusia hampir 300 tahun (dibangun pada 1714), yakni Masjid Al-Anwar. Kata Angke berasal dari bahasa Cina, ang, yang berarti darah, dan ke, yang artinya bangkai. Nama ini terkait peristiwa sejarah tahun 1740 ketika terjadi pemberontakan orang Cina di Batavia. Ribuan warga Cina yang dibantai Belanda mayatnya dihanyutkan ke kali, yang kemudian menjadi kali dan kampung Angke. Sebelumnya, kampung itu bernama Kampung Bebek. Karena, orang Cina yang tinggal di situ senang beternak bebek.

Sekarang kampung Gambir tinggal kenangan saja. Yang ada nama kelurahan dan stasioon Gambir. Kata Gambir sudah dikenal sejak Gubernur Jenderal Daendels mulai membuka daerah itu pada 1810. Kata ini mengacu pada sebutan masyarakat setempat yang melihat banyaknya pohon gambir yang tumbuh di kawasan tersebut. Sebelum dikembangkan oleh Daendels sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda yang dinamakan Weltevreden, kawasan itu masih merupakan daerah rawa-rawa dan padang ilalang. Pada abad ke-17 oleh pemiliknya, Anthony Paviljoen, daerah itu disewakan pada masyarakat Cina sebagai lahan pertanian tebu, sayur-sayuran dan persawahan.

Di daerah yang kini dikenal sebagai Lapangan Monas pernah tiap tahun diselenggarakan Pasar Gambir untuk memperingati HUT Ratu Wilhelmina, nenek Ratu Beatrix sekarang ini. Keramaian itu, kemudian, oleh Gubernur Ali Sadikin dilanjutkan dengan Jakarta Fair (Pekan Raya Jakarta) guna memperingati HUT Kota Jakarta.

Tidak jauh dari Gambir terdapat kampung Gondangdia yang kini berada di daerah pemukiman elit Menteng, Jakarta Pusat. Nama Gondangdia cukup dikenal di kalangan masyarakat awam di Jakarta karena sering disebut dalam lagu Betawi: Cikini si gondangdia, saya disini karena dia.

Ada beberapa versi nama kampung Gondangdia. Berasal dari nama pohon gondang (sejenis pohon beringin). Berasal dari nama binatang air sejenis keong gondang, yang artinya keong besar. Juga berasal dari nama seorang kakek yang terkenal dan disegani masyarakat sekitar kampung. Kakek ini punya nama kondang dan sering dipanggil ‘kyai kondang’. Nama tempat itu pun disebut gondangdia (kakek yang tersohor).

Dari Jakarta Pusat kita ke Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Di sini terdapat kawasan Kebantenan, karena sejak 1685 dijadikan salah satu tempat pemukiman orang-oroang Banten di bawah pimpinan Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Agung Tirtayasa. Tentang keberadaan orang Bantgen di kawasan tersebut, kisahnya dimulai, setelah Sultan Haji mendapatkan bantuan Kompeni. Akibatnya Sultan Agung Tirtayasa terdesak, sampai terpaksa meninggalkan Banten, bersama keluarga dan abdi-abdinya yang masih setia kepadanya. Mereka berpencar, tetapi kemudian terpaksa menyerahkan diri: Sultan Ageng di sekitar Ciampea, Pangeran Purbaya di Cikalong kepada Letnan Untung (Untung Surapati). Di Batavia awalnya mereka ditempatkan di dalam lingkungan benteng. Kemudian, Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdi-abdinya diberi pemukiman di Kebantenan, Jatinegara, Condet, Citreureup, Ciluwer, dan Cikalong.

Selain Kebantenan di Jakarta Utara, ada pula Kebantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter, sebelah tenggara Jatinegara, atau sebelah baratdaya Kota Bekasi. Di salah satu rumah tempat kediaman Pangeran Purbaya yang berada di baratdaya Bekasi itu ditemukan lima buah prasasti berhuruf Sunda kuno, peninggalan kerajaan Sunda, yang ternyata dapat sedikit membuka tabir kegelapan sejarah Jawa Barat.

Dari Kebantenan Jakarta Utara, kita menuju ke Kampung Ambon di Rawamangun, Jakarta Timur. Nama ini sudah ada sejak 1619. Pada waktu itu Gubernur Jenderal JP Coen menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon mencari bantuan dengan menambah pasukan dari masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen kemudian ditempatkan di Batavia, yang kini menjadi Kampung Ambon.

Pada awal berdirinya VOC, Belanda menempatkan masyarakat untuk tinggal di kampung-kampung dengan nama etnis mereka. Karena itu, di Jakarta banyak nama tempat mengacu pada etnis, seperti Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Banda(n), Kampung Bugis, dan Kampung Makassar. Di masing-masing kampung itu Belanda menempatkan kapiten, yang dipilih dari tokoh masyarakat yang disegani dari tiap etnis.

oleh : Alwi Shahab

‘Perang Salib’ di Selat Malaka

Kini makin marak pagelaran Jakarta tempo doeloe. Yang menggembirakan adalah semakin banyak masyarakat yang ingin mengetahui sejarah kota Jakarta yang sudah berusia hampir lima abad. Sayangnya, sejauh ini lebih banyak ditampilkan sejarah saat-saat penjajahan Belanda. Bahkan di Museum Sejarah DKI Jakarta sendiri hampir tidak terdapat peninggalan-peninggalan sejarah di masa Sunda Kalapa, Jayakarta, maupun Portugis. Padahal penjajahan di Indonesia diawali dengan kedatangan orang-orang Portugis pada abad ke-15.

Sebelum tiba di Indonesia, Portugis telah terlibat perangdengan orang Islam di Spanyol dan Timur Tengah (Perang Salib). Tidak heran dalam suasana demikian, mereka tiba di Nusantara dengan rasa benci terhadap Islam. Kala itu, Sunda Kalapa berada di bawah kekuasaan Pajajaran yang beragama Hindu/Budha. Pajajaran yang juga tidak senang terhadap pengaruh Islam, akhirnya melakukan kerja sama dengan Portugis, sebelum negara di Eropa Selatan ini diusir dari Teluk Jakarta oleh Falatehan pada Juni 1527. Kala itu, Portugis pada 1511 telah menaklukkan Malaka. Kala itu, pusat perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Indonesia berlangsung di Selat Malaka. Sebagian besar diangkut oleh para pedagang Arab ke pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah.

Dengan alasan mengambil alih monopoli para pedagang Arab, Portugis menaklukkan Malaka. Ketika menduduki Malaka, Portugis mengerahkan kekuatan 1200 prajurit dan 18 buah kapal. Sebelumnya terlebih dulu menaklukkan Goa di India. Mengapa Goa begitu mudah ditaklukkan? Itu akibat perjanjian persahabatan antara Kerajaan Hindu setempat dengan Portugis, untuk menghadapi Islam yang dianggap sebagai musuh bersama.

Bagaimana eratnya motif dagang dan agama dikemukakan oleh d’ Albuquerque — panglima Portugis ketika memberikan pengarahan kepada anak buahnya, ”….. jasa yang akan kita berikan kepada Tuhan kita dengan mengusir orang Moor (Islam-Arab) keluar dari negeri ini adalah memandulkan agama Mohamed sehingga api itu tak akan pernah menyebar lagi sesudah itu.” (Mr Hamid Algadri, Politik Belanda terhadap Islam dan keturunan Arab di Indonesia).

Sementara itu, ketika Portugis menaklukkan Malaka, Islam sudah menyebar di kepulauan Nusantara. Karenanya, ketika Portugis melakukan kerja sama dengan Pajajaran dengan membangun loji (benteng) di Sunda Kalapa, para tokoh Islam merasa tersinggung. Dalam suatu pertemuan di Cirebon, para walisongo sepakat untuk menghukum Pajajaran dan Portugis. Tugas diserahkan kepada Pati Unus yang kemudian menunjuk Fatahillah Khan sebagai panglima perang. Setelah mengusir Portugis dan menaklukkan Pajajaran (1527), berakhirlah kerajaan Hindu di Nusantara.

Kita kembali dulu ke saat-saat perjanjian kerja sama pertahanan Portugis-Pajajaran, yang berpusat di Pakuan (Bogor). Untuk mencapai ibukota Pajajaran ini, ekspedisi Portugis menempuh jalur sungai (Ciliwung) selama dua hari dua malam. Tapi pihak Portugis ingin datang ke pusat rempah-rempah, di Indonesia bagian Timur. Maka berlayarlah ekspedisi Portugis terdiri dari tiga kapal menuju kepulauan Maluku. Salah satu kapalnya (El Sabaya) tenggelam di Pulau Sakudi di dekat Madura.

Menurut sejarawan dan pimpinan Lembaga Persahabatan Indonesia-Portugal, Rushdy Hoesein, kini ada upaya-upaya untuk mengadakan penelitian dan mengangkat kembali kapal abad ke-16 yang tenggelam itu. Menurutnya, ketika tenggelam kapal itu membawa berbagai barang hadiah untuk para sultan di Indonesia bagian Timur. Dua kapal lainnya berhasil sampai ke Indonesia Timur. Kala itu rempah-rempah merupakan komoditi penting di Eropa untuk mengawetkan daging dan melawan hawa daging. Portugis mendapatkan jalan ke jalur pusat rempah-rempah dari seorang pedagang Romawi yang mereka tangkap di Malaka.

Jalur pelayaran rempah-rempah tersebut dirahasiakan Portugis. Tapi rahasia itu dibocorkan oleh Heaygen van Linschaten, seorang warga Belanda yang menjadi pegawai di kapal Portugis. Ketika Malaka ditaklukkan Portugis dengan motif dagang dan agama pada ab ad ke-16 perang salib di Timur Tengah masih berlangsung, dan di daerah itu pada akhirnya orang Kristen menderita kekalahan yang menentukan. Rupanya semangat perang salib juga berpengaruh di Nusantara.

Terlihat dari tiga kali ekspedisi pasukan-pasukan Islam dari Tanah Jawa (Jepara dan Demak) serta Sumatera (Aceh) menyerang Malaka. Diantaranya dipimpin oleh Pati Unus sendiri. Sekalipun gagal dalam mengusir Portugis dari Malaka karena persenjataan yang tak seimbang, tapi semangat jihad mereka untuk mengusir penjajah patut diacungi jempol.

Menurut Mr Hamid Algadri, penyebaran Islam di kepulauan Indonesia yang begitu cepat sering dipertanyakan setelah Majapahit jatuh dan Demak berdiri. Jawabannya adalah: Agama Islam telah tersebar lama di Pulau Jawa sejak masa Kerajaan Hindu Majapahit. Jauh sebelum orang Portugis, Belanda, Inggris dan Prancis, memasuki kepulauan Indonesia.

Dari tulisan peneliti sejarah Barat dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang Arab sudah mencapai Indonesia sebelum Islam. Sesudah Islam hubungan terus berlangsung. Hubungan itu demikian eratnya sehingga banyak kerajaan di pantai Jawa didirikan oleh orang keturunan Arab. Dan, mereka memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam.

oleh : Alwi Shahab